Sabtu, 30 November 2013

PENGANTAR PENERBIT


Di mana saja, di zaman modern ini, permasalahan yang dihadapi oleh manusia sama saja. Manusia yang dibesarkan dalam latar belakang yang dibentuk oleh generasi pendahulunya, harus berhadapan dengan arus budaya global yang sama sekali baru, tapi harus disikapi, disinggung, diseleksi, bahkan diterima. Sehingga tak ada bedanya di mana pun kita hidup: Di Indonesia, di
Eropa, di Amerika, di Saudi Arabia sampai pun di pedalaman Afrika.

Dengan menjamurnya buku-buku ala Chicken Soup saat ini, menunjukkan bahwa arus budaya global itu tidak bisa dimungkiri lagi ada, dan punya kekuatan untuk mengakulturasi budaya lokal (yang bahkan bisabisa menyingkirkannya). Dan, buku ini adalah salah satunya. Dengan pertimbangan latar belakang sosial budaya yang merupakan tempat lahirnya Islam, buku ini menawarkan perspektif yang lain. Ketika membaca buku ini, penerbit mengajak pembaca untuk melihat dan memahami perspektif itu. Disini, pembaca dituntut untuk menjadi seorang pemerhati sosial budaya Timur
Tengah, baru kemudian memahami permasalahan modernisme di wilayah itu, dan dunia pada umumnya. Sebagai gambaran tentang bagaimana orang-orang Arab, khususnya Saudi Arabia, menghadapi arus budaya modern itu tampak dari pengalaman penulis buku ini. Adalah Aidh al-Qarni yang dalam usianya yang baru empat puluh tahun 3 tahun mendatang, ia sudah termasuk
sosok yang sudah kenyang makan asam garam. Dengan tuduhan tidak berdalil, dia pernah dijebloskan ke dalam penjara. Dan ketika keluar, tulisan-tulisannya mendapat sambutan hangat oleh masyarakat Saudi Arabia pada umumnya, khususnya buku ini. Dan itu tergambar dalam aliran tulisan bab per bab dalam buku ini: pada bab-bab pertama memang terkesan kurang masuk ke permasalahan aktual dan lebih menyajikan uraian-uraian yang dogmatis; baru di bab-bab tiga perempat berikutnya benar-benar in.

Alasan lain mengapa buku ini diterima luas adalah gaya bahasa dan penulisan yang mengalir dan lugas, yang seakan-akan lari dari pakem buku buku Arab klasik meski membahas tema yang sama. Namun demikian, citra sastra yang banyak mewarnai budaya (baca: sistematika penulisan) Arab pada umumnya, dengan sentilan petikan-petikan dari kata-kata bijak, syair-syair Arab kuno maupun modern, hingga hadits dan al-Qur'an, sangat kental disini. Bukan saja karena faktor budaya saja, tapi latar belakang akademis penulis sendiri yang memungkinkan ke arah itu. la telah menyelesaikan program Doktoral dalam bidang Hadits di Fakultas Ushuluddin pada Al-Imam Islamic
University, Riyadh. la juga hafal al-Qur'an (yang merupakan syarat mutlak sebagai mahasiswa di Saudi Arabia, pada umumnya), hafal 5000 hadits, dan lebih dari 10000 bait syair Arab kuno hingga modern.

Sejak pertama kali diterbitkan, 2001, (Dar Ibnu Hazm: Beirut), buku ini bertahan selama dua tahun sebagai buku terlaris. Untuk cetakan pertama, dalam kurang waktu sebulan sudah habis terjual. Antusiasme yang sama juga diberikan kepada cetakan kedua hingga kesembilan. Namun mulai cetakan ketiga, hak cetaknya diambil alih oleh sebuah pustaka besar di Riyadh, Alobeikan.

Dan penting untuk diketahui, DR. Aidh al-Qarni adalah penulis paling produktif di Saudi Arabia saat ini.
Jakarta, akhir Agustus 2003